Selasa, 27 Januari 2015

Uniknya Tradisi Bakar Batu di Papua



Indonesia memiliki ragam budaya dan suku bangsa yang luar biasa mempesona. Beberapa daerah di Indonesia memiliki kebiasaan serta tradisi yang unik dan menarik. Salah satunya adalah tradisi bakar batu di papua. Biasanya tradisi ini dilakukan pada upacara-upacara tertentu untuk memeriahkan dan menyemarakkan acara tersebut. Pada masyarakat papua, bakar batu biasanya disebut barapen.

uniknya-tradisi-bakar-batu-di-papua

Di Papua, perangan antarsuku sering kali terjadi karena gesekan atau karena perebutan wilayah. Tidak hanya itu, beberapa penyebab lainnya seringkali membuat dua suku yang berlawanan harus berperang.Peperangan yang seringkali memakan banyak korban jiwa tersebut kemudian menjadi semakin berkurang seiring dengan makin banyaknya orang yang mencintai perdamaian.
Perdamaian yang terjadi di antara kedua belah pihak itulah yang kemudian dirayakan dengan upacara tradisi bakar batu. Pada umumnya tradisi bakar batu adalah bagian dari upacara tradisional suku yang mendiami bagian tengah Pegunungan Papua.Tidak hanya itu, upacara ini juga biasanya diadakan pada beberapa momen penting seperti, ketika ada tamu negara yang berkunjung, kematian, perdamaian, serta pernikahan. Bagi masyarakat Papua upacara ini adalah upacara yang sakral dan memiliki nilai budaya.Namun, yang paling sering, tradisi bakar batu di langsungkan setelah terjadinya perdamaian dua belah pihak yang bertikai.
Tradisi bakar batu adalah tradisi memasak daging dan sayuran dengan menggunakan batu yang sudah dipanaskan. Biasanya daging yang mereka masak di atas batu tersebut adalah daging babi yang dicampur dengan sayur sayuran serta ubi. Dan yang unik dari upacara ini, pengorbanan babi tidak di sembelih menggunakan parang atau pisau melainkan babi tersebut harus dipanah oleh kepala suku. Kepala suku biasanya akan melepaskan anak panah tepat kearah jantung babi.
Setelah babi dinyatakan mati, lalu kemudian dikuliti dan kemudian dagingnya akan diletakkan di atas batu yang membara hingga matang seperti sate. Akan tetapi, tidak seperti memanggang sate, proses memasak yang mereka lakukan adalah dengan metode oven atau metode memasak dengan panas. Panas yang dikeluarkan oleh batu akan ditahan menggunakan alang alang sehingga daging bisa masak secara keseluruhan.
Butuh waktu sekitar 90 menit hingga daging dinyatakan matang, kemudian daging akan dibagi-bagi kepada semua orang yang ada di sana. Terutama mereka yang berasal dari masyarakat asli papua.
Apabila bakar batu ini untuk merayakan perdamaian dua belah pihak yang bertikai, sebisa mungkin daging harus dibagi secara rata hingga semua mendapatkan bagian. Pembagian daging ini tidak boleh sembarangan karena apabila tidak mencukupi atau banyak yang tidak kebagian hal ini bisa menyebabkan masalah di kemudian hari.
Pada saat ini, tradisi bakar batu tidak hanya di laksanakan pada acara-acara yang telah disebutkan di atas, melainkan juga diadakan pada acara-acara tertentu seperti Lebaran. Namun yang membedakan, pada saat Lebaran daging yang dibakar bukankah daging babi, melainkan daging ayam. Hal ini dimaksudkan untuk mempererat tali persaudaraan antara mereka yang beragama Islam dengan masyarakat suku papua.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar